Cerita Panji di Asia Tenggara

Cerita Panji adalah cerita dari banyak petualangan Pangeran Panji (Raden Inu Kertapati), saat ia mencari istrinya yang hilang, Putri Chandra Kirana (Dewi Sekartaji). Petualangan mereka dilakukan dengan berbagai penyamaran dan dengan ragam nama yang berbeda-beda, sebelum sepasang kekasih dipertemukan kembali. 

Setting cerita ada di Jawa Timur dan menampilkan sejumlah kerajaan seperti Kahuripan (juga dikenal sebagai Janggala), Daha (Kediri), Gegelang dan Singhasari (Tumapel).


Kisah Panji di Wayang Beber. Foto: Kemdikbud

Cerita tersebut diperkirakan tersebar pada masa kejayaan kerajaan Majapahit pada abad ke-13 dan disebarkan oleh para pedagang di sepanjang jalur perdagangan, dan menjadi salah satu bentuk sastra terpopuler di Asia Tenggara.

Dewi Sekartaji dalam Festival Panji 2019 di Kediri. Foto: Warstek

Menurut Noriah Mohamed - peneliti dari Universiti Sains Malaysia - pengaruh cerita Panji juga terdapat pada “Sejarah Melayu” dan “Hikayat Hang Tuah”.

Dalam “Sejarah Melayu”, penulis menyebutkan seorang putri Majapahit bernama Raden Galuh Candra Kirana yang kecantikannya memikat hati Sultan Mansur Syah. Nama putri ini juga ditemukan di cerita Panji. Di “Hikayat Hang Tuah”, tertulis bahwa Ratu Daha memiliki dua orang putri, yang tertua adalah Putri Galuh Candra Kirana.

Perpustakaan Inggris menyimpan sepuluh naskah Melayu yang berisi cerita Panji atau dongeng terkait. Semuanya sekarang telah bisa dilihat secara digital.

Sketsa Panji dalam naskah Melayu Hikayat Dewa Mandu. (Sumber: The British Library)


Cerita Panji versi Thailand pertama kali disusun pada abad ke-18 oleh dua putri Raja Borommakot, yang pertama kali mendengar cerita tersebut melalui pelayan Melayu mereka.

Masing-masing putri kemudian menyusun cerita versinya sendiri menjadi dua komposisi. Cerita tersebut digunakan untuk pertunjukan seni tradisional, yaitu Inao Yai (Inao Besar) atau Dalang dan Inao Lek (Inao Kecil) atau hanya Inao.


Inao & Busaba (Thailand). Foto: Historia.id

Ada perubahan nama-nama tokoh dalam versi Thailand. Raden Inu Kertapati menjadi Inao, dan Candra Kirana (Sekar Taji) menjadi Busaba. Kata Busaba kemungkinan berasal dari "Busba" - dari kata Sansekerta "Puspa", yang berarti bunga. Mirip dengan kata Jawa "Sekar" juga berarti bunga.

Menariknya, nama-nama tempat tidak banyak berubah. Inao adalah pangeran dari Kurepan , Busaba adalah putri dari Daha. Keduanya adalah nama-nama tempat di Jawa Timur. Hanya berubah sedikit, Kahuripan/Kuripan jadi Kurepan, sedangkan nama kerajaan Daha tidak berubah..

 

Panji/Inao versi Khmer. Foto: ourdaily.co

Terdapat perbedaat pendapat tentang bagaimana Kisah Panji sampai di Kamboja. Pendapat pertama menyatakan bahwa Kamboja menerima cerita Panji melalui Thailand. Hal ini karena adanya kesamaan nama dan alur cerita dengan versi Thailand.

Pendapat lain menyatakan bahwa Kamboja menerima dongeng Panji langsung dari Majapahit. Dalam kitab Negara Kertagama (kitab kuno dari abad ke-14), tertulis bahwa Kamboja adalah salah satu dari negara-negara sahabat Majapahit, Dengan demikian interaksi antara Majapahit dan Kamboja terjadi sebelum kitab itu ditulis, termasuk didalamnya adalah penyebaran dongeng Panji.

Panji Jayakusuma. Foto: Kerajaan Nusantara


Pada tanggal 30 Oktober 2017, manuskrip Panji daicatatkan dalam UNESCO Memory of the World Register. Naskah tersebut dikirimkan oleh Kamboja, Indonesia, Belanda, Malaysia dan Inggris.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Kode Telepon Negara-negara ASEAN

Kita Anggota Blok Perdagangan Terbesar

Mengenal Angkor Wat